Selasa, 29 Mei 2012

Cerpen "Seberkas Cahaya"



            “ Allahuakbarrr….”
Suara adzan subuh yang merdu dan bergulir bagai hembusan lembut di telinga, membangunkan ku. Segera aku bergegas mandi dan mengambil wudhu, untuk segera menunaikan sholat subuh. Seperti biasa, setiap hari saat aku terbangun dan menunaikan sholat subuh hanya sendiri. Tak pernah ku lihat orang tua ku berada di rumah di pagi hari, aku mengerti akan hal itu. Mereka memiliki alasan tersendiri. Setiap pagi bahkan terlalu pagi, di saat ayam – ayam masih terlalu malas untuk berkokok, di saat butiran embun tercipta, dan sang matahari masih terlalu malas untuk menampakan cahayanya, bapak dan ibu ku sudah beranjak pergi untuk berkerja. Bapak adalah seorang kuli panggul di pasar, sedangkan ibu dengan segala usahanya berusaha membantu ekonomi keluarga kami dengan berjualan kopi di pasar.
Setiap hari setelah selesai menunaikan sholat dan merapihkan rumah kecil kami, aku beranjak ke sekolah. Sekolah ku tidak terlalu jauh, maka dari itu aku aku berjalan kaki ke sekolah. Sekolah ku adalah sekolah yang cukup bagus, aku bisa memasukinya berkat usaha dan kerja keras bapak dan ibu ku untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah uang yang bisa di dapat. Terkadang aku merasa malu kepada teman teman ku yang memiliki segalanya, dan hidup berkecukupan. Tetapi aku tetap mengerti akan keadaan keluarga ku dan mensyukurinya.
Sekitar pukul dua siang, aku sudah pulang dari sekolah dan beranjak pulang ke rumah. Sesampainya di rumah “ Assalamualaikum..” “ Pa? Bu? Rina pulang..” sahut ku, tetapi tak ada jawaban ataupun suara dari dalam rumah. Tak seperti biasanya, aku terdiam dan berfikir kemana orang tua ku, mengapa mereka belum pulang. Akhirnya aku putuskan menunggu mereka dirumah dan merapihkan rumah. Setelah beberapa lama, ibu ku pulang ditemani beberapa orang, ia tampak sedih dan sedikit menahan rintikan air matanya. “ Ibu, ibu kenapa? Dari mana saja bu?” Tanya ku. “ Bapak rin! Bapak kkaa..kammu” jawabnya terbata sambil menahan air matanya yang mulai menetes. Aku tahu ada sesuatu yang salah dan buruk terjadi pada bapak, tapi aku tidak tahu apa itu. “ Bapak kenapa bu?” Tanya ku gemetar. “ Bapak kamu meninggal rin!” jawab ibu. “ innalilahi, bu tapi kenapa bu? Bapak?” Tanya ku. “ Bapak kamu tertabrak mobil yang mengangkut sayur rin” jawab ibu yang berusaha tegar. Setelah aku mendengar hal tersebut, segalanya  seperti bisu dan mati rasa. Bapak, seseorang yang selalu berusaha memberikan terbaik untuk keluarganya kini telah tiada. Entah apa yang bisa dilakukan oleh ku untuk menghibur ibu.
Setahun setelah wafatnya bapak, aku dan ibu pindah ke rumah kakek di yogya karena kehidupan begitu sulit bagi kami di sini. Di yogya aku tidak meneruskan sekolah ku karena keuangan begitu sulit bagi kami, kakek hanyalah pensiunan hansip desa, dan ibu menjadi petani. Selama di rumah kakek, aku belajar banyak dari nya. Kakek mengajari ku bagaimana menjadi seorang muslim yang baik. Kakek sering bercerita tentang nabi Muhammad SAW, dan tentang perjuanganya maupun ketabahannya dalam menghadapi dan menjalani kehidupan. Aku sangat kagum terhadap nabi Muhammad SAW dan perjuangannya, aku selalu suka saat kakek bercerita tentang nya.
Aku berusaha mencontoh dan mempelajari ketabahan dan perjuangan nabi Muhammad SAW, aku belajar sabar dalam menjalani kehidupan ini. Sepanjang hari aku mensyukuri hidup ku, sampai suatu hari ibu jatuh sakit. Ibu sakit parah, aku dan kakek membawa ibu ke puskesmas desa. Tetapi setelah beberapa hari ibu pergi, pergi dari dunia ini. Hidup ku seperti terkoyak tanpa ibu, aku mengutuki hidup ku dan menyesal pernah hidup. Tak tahu mengapa, seperti tidak menerima kenyataan ini, aku jadi membenci segalanya. Benci pada diri ku, pada hidup ku, semuanya. Aku jadi tidak sholat, tidak mengaji, bahkan tidak mendengarkan apa yang kakek katakan. Aku tak peduli, bahkan aku ingin mati dan pergi.
Tetapi rasa ke egoisan, benci dan ketidak pedulianku perlahan pudar. Setelah beberapa lama kakek sakit namun tetap tegar dan ceria untuk menghiburku. Perlahan aku pun sadar, apa yang aku lakukan adalah salah. Tidak seharusnya aku mengutuki hidupku dan tidak menerima kenyataan yang ada. Seharusnya aku harus bisa seperti nabi Muhammad Saw, yang tabah dan sabar. Karena sesungguhnya masih ada seberkas cahaya dalam kekelaman dan kepedihan. Aku harus bangkit dan tegar karena masih ada kakek bersama ku. Sesungguhnya allah SWT tidak menyukai orang yang menyerah akan kehidupannya. Maka dari itu, kini ku mulai semuanya dari awal. Aku bersama kakek bersama menjalani hidup ini dan saling membantu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar